Skip to main content

Udah, Tungguin Aja

Mungkin di kalender jenis apapun ga bakal ditemuin apa yang sekarang aku bilang sebagai bulan menunggu, yaudasihya...yang aku paham bulan Mei itu bulan menunggu.

Menunggu kapan lagi weekend ? Berapa hari lagi sebelum Sabtu ?

Menunggu kapan ada libur panjang ? Berapa hari lagi sebelum kelas UAS ?

Menunggu dosen yang ternyata tidak masuk

Menunggu dosen yang ternyata lalai dari janji 15 menitnya dan baru kembali setelah 1 jam

Menunggu diberi tugas akhir, dan langsung maraton ngerjain biar ga ketumpuk sama tugas akhir lainnya

Menunggu banyak orang menyelesaikan kalimatnya

Menunggu teman makan malam, karena otak butuh pengalihan sejenak

Menunggu giliran mandi gegara molorin jadwal mandi dan akhirnya harus antri

Menunggu ada cheecake di depan pintu kamar

Menunggu konfirmasi waktu tes dan ternyata sampai hari H ga ada kabar juga

Menunggu niat untuk membersihkan kamar dan do the laundry

Menunggu waktu sarapan, karena uda dari malem perut laper

Menunggu kenalan sekelompok tahu diri

Menunggu bulan Ramadhan!

Menunggu kapan lagi bisa bebaringan di kasur

"semoga masih diberi kelapangan untuk bersabar", sesederhana karena sejatinya bersabar itu tidak perlu ada batasnya 

Comments

Popular posts from this blog

Review Menulis

Terhitung awal Maret, ketekunan menulis di portal ini yang dimulai semenjak Agustus 2015 sedikit terganggu. Sebagai gantinya, bulan ini akan ada banyak tambahan tulisan dari bulan lalu. Sedikit kealpaan di dunia maya penulisan selalu jadi justifikasi paling masuk akal karena beragam tuntutan tanggungan yang menggunung. Tapi untuk membiasakan budaya tidak gampang pamrih dan konsisten, tulisan ini hadir.

2k16

First of all. Sorry it took some times for the post. Both contributor had to span holidays and we agreed to postpone our writing for the next deadline. So here I am. Writing (dedicated to this blog) for the first time in 2k16.

Twenty Something

Tidak ada pembenaran apapun atas keabsenan saya selama sekitar 2 bulan ini. Tapi jikalau masih boleh memberi alasan logis, saya ingin memberi pengakuan, bahwa selama ini sepertinya saya cerdik mencari dalih apa saja untuk dikerjakan selain menulis itu sendiri. Iya, saya seharusnya malu. Malu kepada diri saya dulu yang rajin protes dengan kontributor sebelah kalau dia telat posting. Malu kepada diri saya sendiri yang sedang rendah ‘self-esteem’ nya. Malu kepada diri saya karena membiarkan nikmat menulis dan menyampaikan sesuatu menjadi sesuatu yang saya ‘take for granted’. A lot things happened . Dan secara garis besar, rangkaian takdir itu memberi saya beeberapa pelajaran. Being twenty something is about how well you coach yourself. Hampir semua mengingatkan saya tentang seperti apa saya, di mata diri saya sendiri. Tentang batasan saya, tentang harapan saya, tentang mereka yang sayangi, tentang kemalasan saya, tentang apa yang membuat saya tertarik, tentang asumsi-asumsi...