Kalaulah ada di dunia kata paling mesra, bolehlah kupasrahkan saja dalam doa. Dan bila semesta menjanjikan dunia dan seisinya sebagai singgahnya, bait kata tentang manusia hanyalah senda gurau belaka. Nanti... saat jasadku tak akan ada lagi. Ingatlah sajak ini tak akan kurelakan untuk diri sendiri.
-----------------------------------------------------------------------------------------------
Sanggup. Angin berhembus tak hanya karena mau. Mampu
Naik. Pendaki bertualang bukan mengejar puncak. Meningkat
Daun gugur bertebar. Terhempas. Perlahan
Hujan turun berpetir. Silau. Gelegar
Dayung perahu lewati pulau. Perlahan. Sabar
Rona Juni akrabi rumput pinggiran dan basahnya jalanan
Datangnya sering kali tak kau rasakan
Basahnya dedaunan serapi angan insan akan kenangan, tenang
Teriknya siang tak bisa kau artikan
Dan ketika sudah waktunya pulang, kau tak ucapkan selamat tinggal
Hingga tahun memisahkan
Pada semua yang terjadi di pertengahan
Ada masa diam hanya akan menggiring pada tumbang
Ada riuh namun kosong menyertai dalam lamunan
Ada harap terungkap kala malam
Ada peluh tak terlihat kala siang
Dan pisah tak terelakkan
Meski enam bukan hanya kurang dua dari delapan
Waktu selayaknya lewat dalam artian
Saat hadir agenda pelaksanaan
Kau tahu kapan kita kan pulang
Kau tahu apa kau kan lakukan
Kau tahu dimana kita bertemu dalam perlintasan
Comments
Post a Comment